Istriku Seorang Pujangga

Aku tidak menyukai puisi sebagaimana istriku. Akhir-akhir ini ia keranjingan betul membaca buku-buku kumpulan puisi. Kira-kira sebulan yang lalu ketika ia berulang tahun, aku menghadiahinya sebuah buku kumpulan puisi karya pujangga paling kondang negeri ini, Chairil Anwar.

Aku menghadiahi buku itu bukan karena ada alasan tertentu tapi memang sudah terlanjur bingung entah apa yang mesti kuberikan. Alih-alih aku memberi itu agar terlihat romantis di matanya, namun hal yang paling utama karena hadiah semacam itu tidak menguras kantong. Hadiah sederhana untuk istri tercinta. Ia mengaku menyukainya setelah habis membaca.

Tapi, setelah hari itu, ia betul-betul seperti orang kesetanan. Hampir setiap hari membeli buku kumpulan puisi dan melahapnya hanya dalam waktu semalaman. Awalnya aku tak terlalu ambil pusing. Lagipula, karena banyak membeli buku, buku-buku itu jadi terlihat indah lantaran memenuhi rak buku di ruang tamu, atau rak buku jadi terlihat indah lantaran buku-buku itu memenuhinya, yang sebelumnya hanya berisi setumpuk majalah otomotif dan buku-buku zaman kuliahku dulu. Lalu yang terpenting, ia tidak menghabisi waktu luangnya perkara menonton sinetron-sinetron jahanam di televisi, ia hanya membaca dan membaca. Aku jadi cukup senang.

Pagi itu, aku telah bersiap ke kantor. Hal-hal telah kusiapkan, kecuali satu: sarapan. Aku bergegas ke dapur untuk sarapan seperti biasa tapi meja makan kosong. Tidak ada nasi atau lauk-pauk sebiji pun. Hanya istriku yang duduk manis, serius membaca sambil menyeruput kopi panas. Aku duduk menghadapnya.

“Kamu tidak bikin sarapan?” kataku.

“Jika Fira’un berdosa, maka akulah yang paling berdosa. Jika Musa tersiksa, maka kamulah yang paling tersiksa. Aku yang luput melayani. Tuhan murka, dan aku adalah celaka.”

Sungguh mati! Mataku mendelik. Sekarang ia bukan hanya membaca puisi tapi berkata-kata seperti ia adalah pujangga paling ulung. Aku kaget melihat monolog dadakan tersebut, yang mungkin ia anggap sebagai pengganti sarapan. Seakan-akan, kata-kata tersebut bukan hanya dapat mengenyangkan perutku tapi juga jiwaku! Aku tidak benar-benar mengerti apa yang ia ucapkan.

“Kamu bicara apa? Apa kamu tidak membuat sarapan?” kuulangi perkataanku.

“Jika saja….”

Aku buru-buru berdiri, setengah berlari ke luar rumah, menyalakan mobil dan pergi. Tak tahan mendengar ia berkata lagi, bahkan untuk sebait pun. Perutku kosong, sangat kelaparan.

Malam di hari yang sama, aku pulang ke rumah dengan beberapa rekan kantor. Memang sudah ada janji untuk makan malam bersama, perihal kenaikan jabatanku. Aku dan istriku membuat syukuran kecil. Awalnya aku khawatir jangan-jangan ia lupa dengan acara tersebut, lantaran selalu berkutat dengan dunia barunya. Apalagi peristiwa tadi pagi membuatku sedikit trauma, namun ia telah menyiapkan semuanya. Aku cukup lega.

Aku baru akan memulai suapan pertamaku saat ia tiba-tiba kumat, mungkin rasanya memang tak pantas jika kusematkan kata ‘kumat’ seakan-seakan ia terkena penyakit ayan, tetapi aku tak menemukan kata yang pas untuk kebiasaan barunya ini. Tanpa tedeng aling-aling ia berdiri, lalu sekonyong-konyong bermonolog! Ah, sungguh celaka.

Teman-temanku, mungkin menjaga sikap sebagai tamu, memperhatikannya dengan khidmat. Seakan-akan mereka begitu menikmati setiap untaian kata yang keluar pelan-pelan, atau cuma pura-pura menikmatinya. Lamat-lamat kuperhatikan wajah mereka, ada yang bibirnya tertarik kecil, entah memang sebuah senyum kenikmatan, atau menahan tawa terbahak-bahak. Ada yang mengerutkan dahinya, seakan ia betul-betul paham setiap bait dan mencoba menafsirnya.

Lalu setelah semuanya selesai, mereka bertepuk tangan dengan meriah. Tepuk tangan itu kurasai seperti tepuk tangan saat sebuah adegan sirkus selesai. Mereka seperti takjub melihat gajah yang bisa berdiri, atau monyet yang bisa tersenyum. Dan istriku, menunduk-nunduk ringan dan melempar senyum ke sana-sini, selayaknya dirigen orkestra di atas panggung dengan segala kewibawaannya. Atau malah seperti monyet sirkus itu tadi. Ah, muke gile. Aku cuma bisa cengar-cengir dengan wajah bodoh dan cemas. Cemas dengan istriku sendiri.

Setelah acara makan malam yang mengerikan itu usai, selagi istriku merapihkan dapur, aku ambil kesempatan itu untuk mendahuluinya tidur. Aku takut ia kumat lagi. Tak terbayang jika ia bermonolog sambil bersih-bersih. Aku tak sudi melihat kengerian semacam itu.

Selang hari berikutnya, setelah semua kurasa siap. Aku pergi tanpa sarapan, bahkan aku tak mau menengok ke dapur untuk menerka-menerka kalau memang istriku menyediakan sarapan. Aku tak mau kejadian pagi dan malam kemarin terulang lagi. Mungkin, bukan tak mau, lebih tepatnya tak sudi. Aku pergi tanpa pamit padanya.

***

Tiba di rumah, setelah seharian penuh hingga lewat petang aku menghabiskan diri di kantor, aku sengaja pulang dengan perut yang sudah terisi penuh. Aku benar-benar takut jika makan malam di rumah berdua dengannya. Ia pasti akan kumat lagi.

“Aku sudah masak untuk makan malammu, Mas.”

“Wah, sayang sekali, aku baru saja makan sepulang kantor tadi, ditraktir Bos,” kataku alasan.

“Oh, baiklah, akan kusimpan untuk sarapan besok pagi.”

Aku bergegas mandi dan langsung menuju kamar untuk cepat-cepat tidur mendahuluinya seperti kemarin. Tak mau mengadu untung-untungan dengan duduk-duduk di ruang tamu atau teras depan. Aku takut ia melihatku sebagai orang yang miskin jiwa dan batinnya, sehingga ia bisa bersabda dengan puisinya.

Namun, ternyata ia juga sudah siap sedia di kamar. Pikirku waswas. Jangan-jangan ia akan berulah di pembaringan, atau akan mengajakku bercinta seraya bermonolog dengan nafas yang menderu-deru, diiringi puisinya yang mungkin akan sangat vulgar dan spontan, demi medapatkan gairah seksual dan puncak klimaks yang sastrawi. Ah, gila! Itu akan menjadi persetubuhan yang menyimpang.

“Beberapa hari ini kamu terlihat murung, Mas,” katanya. “Tadi pagi aku menyiapkan sarapan untukmu tapi kamu sudah pergi tanpa sepengetahuanku.”

“Masa, sih? Aku tidak apa-apa. Mungkin karena pekerjaan kantor, itu membuatku tersiksa,” kataku. “Masalah tadi pagi, aku benar-benar minta maaf. Aku sudah sangat telat untuk meeting pagi-pagi buta,” lanjutku. Sejujurnya aku jadi merasa sangat bersalah. Aku sadar, tak sepatutnya berbuat seperti pagi tadi. Pergi tanpa pamit, cuma perkara muak mendengarkan monolognya.

“He he he. Ya sudah. Kamu yang sabar, ya. Sekarang istirahat saja.”

“Iya,”

“Puisiku dimuat di koran pagi ini,” sambil menyodorkan koran kepadaku.

“Oh, ya? Itu sangat baik buatmu,” kuterima koran itu dan merebahkan diri di pembaringan.

“Terima kasih telah mendukungku selama ini, Mas. Kamu tidak pernah melarangku untuk membaca dan menulis puisi,” Ia terpejam, merebah lekat-lekat di sampingku. “Ini dunia baruku. Aku sangat menyukainya.”

Aku bagai dihantam petir tatkala ia berkata demikian. Tak semestinya aku berbuat hal-hal bodoh dan menyumpahi istriku sendiri. Apa salahnya ia mempunyai dunia yang bisa membuatnya berkreasi. Ketika istri-istri orang lain sibuk bergunjing, ia justru berpaling dari itu.

Wajahnya yang sudah tertidur pulas, menyiratkan sebuah kebahagiaan. Aku sadar, tak mungkin merenggut kebahagiaannya. Kebahagiaan di dunia barunya, dan aku sangat tak pantas berlaku seperti yang sudah-sudah.

Kuambil koran pagi itu, membaca dengan seksama pada setiap kata dan bait. Aku tak pernah mengerti tapi betul-betul merasa senang. Ini adalah karya istriku sendiri, buah pikirannya sendiri. Aku tertidur, mendekapnya rapat.

Pagi itu, aku telah bersiap ke kantor. Hal-hal telah kusiapkan, kecuali satu: sarapan. Aku bergegas ke dapur untuk sarapan seperti biasa. Istriku menyambut dengan senyuman. Di meja makan sudah tersedia sarapan yang beragam. Ia sedang duduk manis, serius membaca sambil menyeruput kopi panas. Aku duduk menghadapnya.

Entah mengapa, pagi itu aku ingin sekali melihat dan mendengarkan monolognya. Aku ingin merasai kebahagiaan istriku. Dunia puisinya.

“Apa kamu bersedia membacakan sebuah puisi untukku?” pintaku.

Ia tersenyum, berdiri dengan gaun tidurnya yang indah, lalu mulai menuangkan kata-kata ke udara, terdengar merdu sekali.

Aku tersenyum, menikmati setiap kata-kata yang berterbangan. Rona wajahnya begitu cantik. Kata-katanya menembusi jiwa-ragaku. Aku merasa kenyang. Benar-benar kenyang. Aku berdiri, menghampirinya. Mencium keningnya. Ia terpejam, tersenyum kecil. Aku bangga memilikinya. Aku pergi bagai pemenang. Istriku seorang pujangga.

 

Musik Pendidikan: Sebuah Upaya Menggali Kreativitas Anak

Pendidikan pada dasarnya merupakan kebutuhan primer bagi manusia modern saat ini. Sebuah upaya dalam ‘memanusiakan’ manusia ialah tugas utama dalam bidang pendidikan. Lantas pendidikan itu sendiri sudah seharusnya dapat mengakomodir segala potensi masyarakat yang ikut serta dalam kegiatan belajar-mengajar secara formal. Tentunya dengan tujuan dapat menghasilkan generasi penerus yang cerdas, bermoral, dan kreatif secara kontinu.

Penanaman sifat kreatif sejatinya sudah ada sejak pendidikan usia dini. Harus ada upaya dalam mengakomodir aspek kreatif anak-anak seperti mata pelajaran yang berkaitan dengan bidang seni tertentu, misalnya musik.

Pendidikan musik yang berlaku untuk dunia pendidikan di Indonesia masih sebatas pengenalan perihal notasi dan memainkan alat musik, sedangkan pembelajaran rasa musikal itu sendiri seringkali terabaikan. Lembaga pendidikan formal belum mampu mengoptimalkan kemampuan musikal untuk mendukung kecerdasan yang lain.

Pada dasarnya terdapat beberapa landasan teori tentang musik dalam dunia pendidikan. Ada yang disebut dengan Musik Pendidikan (music and education) dan Pendidikan Musik (music education). Pendidikan Musik menitikberatkan pada kemampuan-kemampuan anak untuk menguasai alat musik, sedangkan titik pijak Musik Pendidikan adalah bagaimana anak dapat merasakan dan mengalami musik.

Melalui musik anak-anak juga dapat mempelajari tentang pentingnya sebuah kerjasama; saling berempati; bertukar rasa; belajar mengalah dan pengembangan berbagai kemampuan antar dan inter pribadi lainnya. (Foturnata Tyasrinestu, 2014).

seni-musik-untuk-anak

Dibutuhkan pengenalan notasi dan cara memainkan alat musik, namun kegiatan tersebut bukan menjadi poin utama. Perhatian ditujukan tentang bagaimana anak-anak memiliki kepekaan terhadap elemen-elemen musik dan memberikan kesempatan pada anak untuk berkreasi dan merasa dirinya berarti. Artinya, bagaimana musik dapat menjadi cara dalam menggali kreativitas itu sendiri pada tingkat yang lebih serius dalam dunia pendidikan.

Tradisi dunia pendidikan kita saat ini ialah kemampuan intelektual selalu menjadi ukuran yang pasti dalam proses pembelajaran yang nantinya kecerdasan semacam ini akan berorientasi pada bidang pekerjaan tertentu, seperti bankir; politisi ataupun aparatur negara. Akibatnya banyak sekolah cenderung berlomba meningkatkan aspek intelektual siswa-siswanya walaupun seringkali gagal dalam mengembangkan perkembangan kreativitasnya, atau memang upaya penggalian kreativitas hanya berjalan seadanya saja.

b1ea63296e9ab0bdc83eb0e21f3098cb--music-teachers-teaching-music

Seberapa penting kreativitas musikal itu sendiri di dalam proses pembelajaran? Menurut Deliege dan Sloboda (1997) anak-anak peka terhadap harmoni, cepat lambatnya lagu (yang merupakan cerminan dari tempo dalam musik) serta peka terhadap dinamika. Pernyataan ini jelas bahwa anak-anak peka terhadap unsur-unsur musikal yang menuntun mereka pada proses kreatif serta keinginan untuk berkreasi. Inilah yang disebut dengan kecerdasan musikal, yang dapat mengembangkan sensitivitas, kredibilitas, karakteristik, dan rasa empati untuk anak-anak. Tidak sera-merta berhenti pada pemenuhan kemampuan intelektual saja, justru kecerdasan musikal sebagai penunjang kemampuan lainnya. Di samping itu diharapkan juga dapat memberikan sumbangsih yang cukup bermakna terhadap keberadaan dan interaksi seseorang di tengah lingkungannya.

Berbicara mengenai seni di wilayah psikologi, pada dasarnya seni memiliki arti luas, merupakan salah satu cara yang untuk mengekspresikan diri, tindakan, sikap atau menyampaian gagasan dari sisi mental maupun emosi. Sementara mengembangkan rasa seni (taste of art) akan membantu pembentukan komunikasi verbal dan nonverbal sehingga dapat mencapai usaha belajar yang optimal, karena seni memberikan kesempatan untuk mengekspresikan segala hal yang tidak terucapkan. Berarti musik memberikan kesempatan untuk membunyikan segala hal yang tidak terbunyikan. Anak-anak akan diberikan porsi untuk mengekspresikan diri mereka, memberikan mereka kesempatan untuk berkreasi, demi menunjang emosi; mental; dan aspek kreatif itu sendiri, melalui musik sebagai alternatifnya.

Apabila dunia pendidikan kita memenjarakan aspek kreativitas demi mengutamakan kemampuan intelektual, itu sangat disayangkan. Pembentukan kemampuan tersebut terkesan berorientasi pada kesempatan kerja di masa mendatang. Pendidikan ‘memanusiakan’ manusia; menggali potensi; serta mempunyai peran penting dalam nilai-nilai bermasyarakat, bukan sebagai pemasok tenaga kerja. Hal tersebut tentu tidak mengakomodasi segala potensi yang dimiliki seorang anak. 

Perhatian: Jauhkan anak-anak Anda, atau anak-anak di sekitar Anda dari bahaya Musik Alay Percintaan abad 21, karena tidak memiliki faedah di setiap detik yang berbunyi.

 

Damar

Aku terjerat kedunguan
Mengendap dalam…
Tak tahu!
Ah,

Di depan cermin aku menangis
Di dalam cermin aku tertawa
Mengendap dalam…

Setitik api sebelum padam
renjana sirna sebelum petang
Mengendap dalam…
Hey, awas!

Merusak adalah tumbuh dan merusak adalah manusia terus tumbuh dan merusak adalah aku adalah Anda adalah mereka adalah kami adalah kita semua

Mengendap dalam…

Setitik api kujadikan damar

Nasionalisme Dalam Musik Eropa

 

2009-11-19-Tarrega_Bone

Masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan salah satu era yang menarik dan kaya dalam sejarah musik barat. Selama masa tersebut terjadi tahap terakhir dari aliran romantik di Jerman dan Perancis, yang sekaligus suatu transformasi dari gaya romantik menjadi suatu bahasa musik yang baru secara radikal. Gerakan akhir romantik ini juga disebut post-romantisisme, khususnya terdapat di Negara Jerman yang bersatu menjadi kekaisaran setelah perang antara Perancis dan Prusia pada tahun 1870-1871 dan menjadi salah satu Negara di benua Eropa yang paling kuat.

Sejak masa Haydn dan Mozart bangsa Jerman/Austria sudah menjadi pusat dari musik barat, tetapi ada dua hal yang bisa menentang, hal pertama merupakan kebangkitan musik Perancis, dan kedua perkembangan nasionalisme dalam musik, lebih dahulu di Rusia dan Bohemia,  lalu tampak juga di Negara-negara Skandinavia, Spanyol, Italia, Hongaria, Inggris, dan Amerika Serikat.

Tiga puluh tahun sebelum berakhirnya abad ke-19, banyak sekali peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di barat. Di masa ini Eropa stabil dan damai, tetapi berbeda dengan kawasan di Afrika dan Asia karena perkembangan kolonialisme, di mana negara-negara utama di Eropa masing-masing memperluas wilayah kekuasaannya sekaligus memperkuat ekonomi melalui penjajahan. 

Tahun 1870-1914 membawa banyak sekali inovasi serta penemuan-penemuan dalam dunia teknologi.  Hal-hal ini termasuk menciptakan penerangan listrik dan gramofon oleh Thomas Alva Edison, dengan gramofon untuk pertama kalinya suara manusia bias direkam dan dilestarikan, suatu inovasi yang mempunyai dampak besar dalam musik. Tahun 1897 transmisi radio pertama dipelopori oleh Marconi. Sistem-sistem telepon (diciptakan Graham Bell sekitar tahun 1876) sudah ada di beberapa kota besar di Inggris, Amerika Serikat, dan Eropa selama masa 1890-an. Hal ini mempermudah dan mempercepat proses komunikasi.

Dalam dunia pengangkutan juga ada revolusi akibat terciptanya mesin bensin, lalu mobil Daimler dan Benz tahun 1885. Penerbangan pertama dengan pesawat yang lebih berat di udara dipelopori oleh Wilbur dan Orville Wright pada bulan Desember 1903. Dalam kedokteran pembedahan banyak dilakukan dengan penggunaan obat bius dan obat anti septik. Hal ini berarti hasil pembedahan jauh lebih sukses dari masa sebelumnya. Akan tetapi, peristiwa-peristiwa ini dibayangi ancaman perang pada abad 20. Khususnya desakan Inggris dan Jerman. Semuanya ini mencapai puncaknya pada perang dunia pertama (1914-1918). Rasa kurang tenang ini terasa dalam musik kala itu, khususnya dalam perkembangan gaya-gaya musik baru yang meninggalkan tonalitas sebagai dasar. Dengan demikian, terdapat revolusi musik yang terbesar sejak masa Dunstable dan Dufay pada paroan pertama dalam abad  ke-15.

Pada pertengahan abad 19 muncul suatu kebangkitan dan kesadaran identitas nasional di antara bangsa-bangsa Eropa. Hal ini disebabkan oleh :

  1. Suatu minat untuk menoleh ke masa-masa silam dan mencari arti dalam tradisi suku-suku dan bangsa-bangsa mereka.
  2. Perkembangan politik antara para penguasa tradisional, yaitu raja-raja atau kaisar yang memiliki kekuasaan absolut, dipaksa menyerahkan kuasa mereka pada bentuk-bentuk pemerintahan yang bersifat demokrasi. Dengan demikian orang merasa lebih bebas untuk mengajukan aspirasi nasionalis mereka.
  3. Daerah-daerah yang mempunyai bahasa, tradisi, dan kebudayaan yang sama menuntut pembebasan dari penjajahan, misalnya di Polandia, Cekoslovakia (sekarang menjadi dua negara yaitu Ceko dan Slovakia), dan Hongaria.
  4. Daerah-daerah yang memiliki bahasa dan tradisi mereka yang dulu dalam keadaan terpisah secara politik, bergabung bersama-sama misalnya di Jerman dan Italia.

Bangsa–bangsa lain yang masih dalam dominasi membangkitkan kembali tradisi dan bahasa mereka misalnya orang Ceko dan Hongaria membangkitkan musik rakyat dan kesustraan dalam bahasa meraka sendiri, meskipun bahasa resmi kekaisaran Austria adalah bahasa Jerman. Selama paroan kedua abad 19 para komponis menyusun dalam bahasa-bahasa mereka. Dalam proses ini mereka seringkali memasuki unsur-unsur dari musik rakyat mereka sendiri:

  1. Melodi-melodi itu cocok dengan irama dan intonasi bahasa mereka.
  2. Melodi-melodi itu terkenal oleh bangsa mereka sehingga musik mereka menjadi lebih laku.
  3. Dengan demikian mereka dapat menghasilkan suatu musik dengan warna yang khas, yang kedengarannya tidak meniru gaya Jerman atau Italia seperti masa silam.

Dalam Negara-negara tersebut, kelas menengah semakin kuat dibentuk karena datangnya zaman industralisasi dan perkembangan kota-kota besar. Dari kelas menengah tersebut ada minat yang cukup kuat untuk menonton konser dan opera. Sehingga, pusat-pusat musik baru yang tidak terikat dengan Wina, Paris, dan London mulai dikembangkan.

Lima komponis Rusia membentuk sejenis serikat komponis nasional yang sangat penting, musik mereka diwarnai dengan lagu-lagu rakyat dan musik tradisi gereja ortodoks Rusia. Sedangkan, komponis Ceko lebih memusatkan perhatian pada irama bahasa mereka daripada melodi-melodi rakyat. Mereka mempunyai dasar yang kuat dalam tradisi aliran utama Jerman dan Italia. Gerakan nasionalis juga ada di Eropa utara khususnya di Norwegia dan Finlandia yang masing-masing dijajah Swedia dan Rusia. Para komponis Spanyol akhir abad 19 seperti Albeniz, Granados, dan Turina juga terpengaruh oleh tradisi setempat.

SERIKAT LIMA KOMPONIS RUSIA

ComposersComposit_450

Kelompok lima komponis ini dibentuk oleh Mily Balekirev selama masa 1860-an. Borodin, Cesar Cui, Musorgsky, dan Rimsky-Korsakov. Semua bertemu dan mulai belajar komposisi dengan Balekirev pada akhir masa 1850-an. Pada waktu itu, hanya Balekirev yang berprofesi sebagai pemusik. Ia sendiri tidak pernah mendapat pendidikan msuik yang lengkap dan tidak begitu mengerti penguasaan teknik komposisi menurut tradisi Jerman atau Perancis.

Korsakov bekas perwira angkatan laut, Di antara mereka Korsakov menjadi komponis yang paling berhasil  dalam segi penguasaan teknik, hal ini terbukti dengan risalahnya tentang ilmu orkestrasi dan musiknya sendiri. Korsakov lebih banyak menghasilkan karya dibanding rekan-rekannya. Setelah ia keluar dari jabatannya sebagai perwira angkatan laut pada tahun 1871, ia menjadi guru besar dalam komposisi di konservatorium musik St. Petersburg. Masa 1880-an ia menjadi tokoh dalam sebuah gerakan baru di antara pemusik-pemusik yang lebih terbuka terhadap teknik komposisi Eropa barat.

Borodin adalah ahli kimia yang berprestasi. Borodin menciptakan simfoni dan musik kamar yang paling penting dari serikat lima (dua simfoni dan dua kuartet gesek).

Dengan adanya kesadaran untuk menaikan mutu musik Rusia menjadi sama pentingnya dengan mutu musik Negara-negara lainnya di Eropa barat. Kelompok serikat lima juga mempunyai peran yang sangat penting dalam menaikkan mutu musik bangsa Rusia, di samping berdirinya “Himpunan Musik Kekaisaran Rusia” tahun 1859, Konservatori musik St. Petersburg (1860) dan konservatori Moskow (1865), yang membawa banyak dorongan kepada pemusik Rusia sehingga mempunyai warna khas musik mereka sendiri, bahkan hingga saat ini.

 

Yang Pergi dan Enggan Kembali

“Apa kamu sayang padaku?”

“Pertanyaan macam apa itu?” bisiknya.

“Lalu?”

“Sebagaimana dirimu.”

Kami duduk berdampingan di atas sofa tua berwarna cokelat padam yang makin ringkih dimakan usia. Lampu kuning remang memberikan sedikit cahaya. Semilir angin lambat-lambat berhembus melalui jendela. Suasana syahdu terasa menyelimuti.

Kupeluk dengan erat. Hembus napasnya yang hangat pelan-pelan terasa di dahiku. Aku pejamkan mata. Terasa sangat nyaman berada di peluknya. Tubuhnya empuk dilapisi kulitnya yang halus, dengan warna cemerlang-gemilang berseri-seri. Perutnya terjaga dari lipatan, buah dada kokoh teronggok dengan mantap terpampang di wajahku.

Aku tak ingat kapan pertama kali ia memelukku. Pelukan ini adalah pelukan yang memberiku ketenangan surgawi. Pelukan yang mengendapkan kerinduan.

Kami punya banyak kesamaan. Bentuk wajah kami yang memanjang, tidak bundar. Ia mempunyai dagu yang lancip dan alis yang tebal sepertiku. Warna rambutnya hitam-pekat juga bergelombang, sama sepertiku pula. Namun mata dan hidung kami berbeda.

Ia mengecup dahiku lembut. Sebuah kecupan ringan, namun nikmat tak terhingga. Jiwaku merosot ke ambang kenikmatan. Ambang batas manusia antara kekelaman dan kesucian. Aku tak berdaya, terpejam, tergolek. Nikmat itu kurasai dalam-dalam, merasuki celah-celah jiwa dan batinku yang sayu.

Kuangkat wajah, matanya terpejam, kepalanya menindih lemah terkulai di atas kepalaku, seakan jenjang lehernya runtuh tanpa tenaga. Wajahnya tulus, pipinya penuh, bulu-bulu halus bersahaja menghiasi jarak antara hidung dan bibirnya yang tipis segar.

“Sudah saatnya tidur.”

“Aku masih nyaman di sini.”

“Kamu akan terlambat bangun besok pagi,” katanya lembut.

“Sebentar lagi.”

Dalam benak, aku menerawang jauh mengais ingatan lampau. Masa lalu yang jauh, hanya kurasai besitan-besitan memoar yang kelam. Dalam suatu jarak, kupandangi ia yang menangis meraung-raung. Pria itu, entah siapa, aku tak peduli, terlalu ringan mengibaskan tangan dan berteriak menuding-nuding. Aku tak berdaya, hanya bisa menyaksikannya dari suatu jarak.

Orang itu adalah pria yang dulu dicintainya. Kehidupan mereka penuh pesona cinta, tapi kenikmatan cinta itu tak bertahan lama. Siapa pun takkan mengira kapan pun seorang manusia dapat berubah jadi bedebah. Mungkin memang sudah kodrat atau setan mengerumuni kepalanya, lalu terjerumus di kehidupan hina itu. Ia cuma pembawa bencana. Pulang dalam keadaan seperti binatang, merangkak seperti babi dengan aroma tuak yang kuat. Babi yang begitu buruk, serupa babi yang sebabi-babinya.

Ia pemabuk dan penjudi dan penyuka pelacur. Seringkali datang dengan berahi menggebu-gebu dan melampiaskan segala nafsu-syahwatnya kepada wanitaku yang malang. Lalu pergi, dan begitu seterusnya. Aku tak mampu mengingat bagaimana rupa wajah sialan itu.

Hingga suatu kejadian yang menimpanya. Orang gila itu tak pernah kembali. Entah ke mana, mungkin mati terbengkalai di suatu tempat, atau membelot ke wanita lain di suatu tempat, atau menjadi benalu di suatu tempat.

Aku masih dalam dekapannya. Kami terlena dalam hangat pelukan masing-masing. Ingin kurasai betul setiap inci di tubuhnya itu. Betapa renyah buah dadanya, menyembul-nyembul, melambai-lambai tepat di muka cuping hidungku. Aromanya harum bak vanili memusnahkan bau lembab di ruangtamu. Aku menengadah, mencium pipinya dengan sangat lembut. Ia balas menciumku terpejam, sangat lambat, alam semesta bagai berhenti bergerak.

Dalam pejaman, kucari-cari buah itu yang sedari tadi terpampang mesra dengan kokoh di hadapan. Kusentuh dengan lembut. Ia menyentak kaget, melempar tanganku. Aku terbelalak.

“Sudah cukup. Waktunya kamu tidur.”

“Aku ingin merasai buah dadamu, Bu.”

“Apa-apaan kamu ini?”

Ingin kulumat dalam-dalam, mendekapnya di wajahku dan memenuhi paru-paruku dengan aroma vanilinya. Kuremas kuat-kuat, dengan tubuhku yang sudah gemetar dahsyat.

“Hentikan, Nak!” ia menangis. “Astaghfirullah! Istighfar, Nak, istighfar!”

“Ibu!”

“Kau gila seperti bapakmu!” ia tergopoh-gopoh pergi keluar rumah, tangisnya tak tertahan.

Tertangkap Basah

ADA GUYONAN LAMA tentang seorang suami yang pulang kerja lebih awal dari biasanya dan mendapati istrinya di ranjang dengan pria lain. Si istri yang kaget berseru: “Mengapa kau pulang cepat?” Si suami dengan marah membentak balik: “Kau sedang apa dengan pria lain?” Si istri dengan tenang menjawab: “Aku yang tanya duluan-jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan!”

Mati Ketawa Cara Slavoj Zizek (2016)